5 Dampak Negatif Menerapkan Gaya Hidup Individualis

5 Dampak Negatif Menerapkan Gaya Hidup Individualis

5 Dampak Negatif Menerapkan Gaya Hidup Individualis

ZOYAQQLOUNGE – Gaya hidup individualis merupakan cara menjalani kehidupan yang mengedepankan kepentingan pribadi di atas kepentingan orang lain. Artinya, urusan pribadi selalu menjadi prioritas utama. Kehidupan dijalani masing-masing individu tanpa ikut campur satu sama lain.

Gaya hidup satu ini sering kita temui di daerah perkotaan. Pola pikir untuk tidak saling mencampuri urusan menjadi alasan yang jelas. Namun, gaya hidup individualis memiliki dampak negatif yang perlu kita waspadai. Jika ingin menerapkannya, hati-hati dengan lima sisi negatifnya berikut ini, ya!

1. Kurangnya solidaritas sosial

Tidak ikut campur pada urusan orang lain memang bagus. Akan tetapi, lama-lama solidaritas sosial antarindividu bisa berkurang atau bahkan hilang. Padahal, kita tetap membutuhkan peran banyak orang pada situasi-situasi tertentu.

Gaya hidup individualis meminimalisir keterlibatan sosial. Dalam jangka panjang, kita akan terbiasa bersikap acuh, sehingga tidak ada lagi rasa ketertarikan pada lingkungan sekitar. Solidaritas sosial yang penting di masyarakat pun akan berkurang. 

2. Dapat menimbulkan keegoisan

Menerapkan gaya hidup individualis juga dapat menimbulkan keegoisan dalam diri. Sebab, kita menjadi terbiasa mementingkan urusan pribadi tanpa memedulikan urusan orang lain. Bukankah hal tersebut merupakan sikap egois?

Kurangnya bersosialisasi membuat rasa empati perlahan berkurang. Timbul rasa enggan membantu kepentingan orang lain, karena merasa selalu sibuk dan fokus pada diri sendiri. Pada akhirnya, kita jadi tidak mampu membedakan prioritas pribadi dan kehidupan sosial.

5 Dampak Negatif Menerapkan Gaya Hidup Individualis

3. Keterasingan sosial

Gaya hidup individualis seringkali menekankan kemandirian untuk mengejar kepuasan pribadi. Fokus yang mendalam pada kebutuhan diri sendiri pada akhirnya mengakibatkan keterasingan sosial. Minim sekali interaksi yang terjadi, kemudian timbul rasa sepi.

Gaya hidup individualis lebih cocok bagi introver yang lebih nyaman bila sendirian. Sementara itu, ekstrover sebaiknya tidak menerapkan gaya hidup satu ini. Kebutuhan untuk bersosialisasi akan sangat minim dan malah timbul keterasingan atau isolasi sosial.

4. Sulit membangun hubungan dengan orang lain

Sisi negatif lainnya dari gaya hidup individualis adalah sulit membangun hubungan dengan orang lain. Hal tersebut disebabkan oleh pilihan untuk hidup masing-masing. Jarang membuka diri membuat kita tidak terbiasa menciptakan rasa intim dengan orang lain.

Biasanya, penganut hidup individualis hanya mau berinteraksi apabila benar-benar perlu. Itu pun jarang sekali terjadi. Akibatnya, tidak terjalin hubungan yang lebih bermakna selain hanya saling mengenal sebagai sesama manusia.

5. Tumbuh trust issue atau sulit percaya kepada orang lain

Orang-orang yang menerapkan gaya hidup individualis umumnya tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan orang lain. Pandangan untuk mengurusi urusan masing-masing menciptakan persaingan. Trust issue pun bisa tumbuh di baliknya.

Karena jarang membuka diri, kepercayaan terhadap orang lain jadi minim. Kita juga tidak banyak melihat orang lain dari kacamata yang mendalam. Wajar saja apabila pikiran selalu penuh kewaspadaan dan sulit sekali percaya kepada orang lain.

Gaya hidup individualis memang menawarkan kebebasan, tetapi sisi negatifnya perlu diwaspadai. Jika ingin menerapkannya dalam kehidupan, kamu harus tahu batasan yang wajar. Jangan sampai terlalu fokus pada diri sendiri dan mengabaikan pentingnya kehidupan sosial.

Dapatkan Jackpot Berkali kali Lipat Hanya di Games Zoyaqq klik disini : 📷https://heylink.me/ZOYAQQ/

ADMIN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *